Nadine's Survival Pt 1-Tribal Attack

Para lelaki dengan seragam ninja itu sangat profesional. Gerakan mereka tak terdeteksi, dalam gelap keremangan malam mereka bergerak menuju rumah sasaran mereka.
Para penjaga rumah itu tak sadar kalau mereka telah kebobolan, para ninja itu sudah berada di depan jendela kamar yang mereka tuju.
Nadine baru saja selesai membersihkan wajahnya dari make up, tubuh indahnya hanya berbalut lingerie putih transparan dan g-string.
Angin dingin menerpa tengkuknya, Nadine tertegun, seingatnya ia sudah mengunci pintu balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Tangannya baru saja menyentuh gagang pintu kamarnya, mulutnya dibekap dari belakang dan sebelum ia mulai meronta, sebuah tangan kekar meremas daerah antara bahu dan lehernya, dan Nadine merasa pandangannya menjadi gelap.

Satpam di rumah Nadine bersiul-siul kecil sambil berkeliling rumah besar itu tanpa menyadari ninja terakhir baru saja menuruni tembok rumah besar itu, dan tubuh majikannya yang pingsan digotong menjauh hanya berbalut ligerie. satpam itu hanya mendengar sayup mobil dikejauhan tanpa menyadari nona majikannya berada dalam van berwarna hitam yang melaju dalam kegelapan malam.

Para ninja itu memandang tubuh nadine yang tergolek pingsan di tengah van, seorang diantara mereka berkata, 'kita cicipi dulu dia, karena belum tentu ia keluar hidup-hidup.', terdengar gumaman setuju. Seorang dari ninja itu menurunkan celananya dan mengangkangkan paha mulus Nadine.
Mobil itupun terus melaju.....
********

Deru baling-baling helikopter menyadarkan Nadine, kepalanya terasa berat, ia panik, pandangannya terasa gelap sampai ia menyadari penutup matanya. Ia mencoba relax ketika ia merasakan seluruh badannya sakit, vagina dan anusnya terasa perih, panas, sakit dan serasa terbakar, dan ia merasakan sisa-sisa sperma di langit-langit mulutnya.
'Lepaskan aku', jeritnya, namun hanya deru baling-baling yang didengarnya. Nadine mencoba berontak namun tubuhnya terikat strap dengan kuat di tempat duduknya.
Kemudian deru itu makin kuat, dan hembusan angin menerpa kencang.
Nadine panik, ia menyadari pintu helikopter itu dibuka, ia merasakan strapnya di buka. Gadis itu berusaha meronta, namun usahanya sia-sia.

Semuanya seperti gerakan lambat bagi Nadine, ia merasakan tubuhnya melayang di udara sebelum... byuuurr
sekarang tubuhnya seperti dibanting ke dinding beton, namun kecipak dan serbuan air yang mendadak menyerang paru-parunya membuatnya sadar kalau ia menghatam air.
Untungnya sebagai seorang diver, Nadine terlatih untuk tidak panik dalam air. Ia membuka penutup matanya, membiasakan pengelihatannya dalam air laut itu dan dengan perlahan meluncur menuju permukaan.

Matanya melihat sekeliling dan menemukan ada sebuah pulau tak jauh dari tempatnya terombang-ambing, lalu dengan perlahan Nadine mulai merenangi lautan menuju pulau itu.
Nadine melangkah tertatih, keluar dari laut, tubuhnya mati rasa, dinginnya air laut dan tubuhnya yang hanya tertutup lingerie membuatnya beku, hanya keinginan bertahan hidup yang membuat gadis itu mampu mengarungi laut. Dan ketika akhirnya tubuhnya berada di atas pasir pantai, tubuh indahnya menyerah, rubuh berdebam.

Patukan burung camar laut dipunggunya menyadarkan Nadine dari pingsannya, 'Aku belum mati, bodoh...' geramnya lirih sambil mengusir camar itu. Air laut, menerjang bagian bawah tubuhnya, menyingkap lingerienya, mengekspose keindahan bokong, dan paha jenjang gadis itu. Nadine merasakan perih di vagina dan anusnya, selain karena perkosaan yang tak diketahuinya juga karena pasir pantai dengan tanpa bersalahnya masuk kedalam liang surganya, akhirnya dengan mengerahkan tenaganya yang lemah, Nadine merayap ke balik pepohonan kelapa, berusaha menghindari sengatan mentari dan memulihkan tenaganya.

Setelah gadis itu mampu berdiri, Nadine memandang sekelilingnya. Ia melihat pegunungan dan hutan lebat terbentang di depannya. 'Sialan' gerutunya, 'kalau pulau ini tak berpenghuni, aku terpaksa menunggu bantuan di pantai sampai ada kapal nelayan yang lewat.' keluh Nadine, dan ...
'Aduh....sial, laper banget' Nadine memegang perutnya yang berbunyi, sambil memandang berkeliling ia berusaha mencari sesuatu yang bisa dimakannya. Ketika laparnya makin menjadi, Nadine melihat ada asap dari arah hutan.
'Sialan.' umpatnya sambil dalam hatinya juga kegirangan, 'ternyata pulau ini berpenghuni, aku bisa minta bantuan mereka.'

Gadis itu mulai menuju sumber asap itu, dan segera gadis itu menyadari kalau hutan dihadapannya termasuk perawan. Begitu banyak halangan yang dihadapinya terlebih karena 'pakaiannya' sangat tidak mendukung. Beberapa kali Nadine harus mencabut duri yang menusuk telapak kakinya atau merasakan kulit mulusnya tertampar ranting atau tergores semak belukar. Namun demi pertolongan gadis itu maju terus.

Nadine beristirahat sejenak di aliran sungai, ia merendam kakinya yang sangat penat. Telapak kakinya terluka dan melepuh.
Ketika Nadine sedang memijat betisnya yang kaku, sebatang anak panah menghujam tanah tepat di depan vaginanya.

Nadine terkejut, mendengar banyak gemerisik dibalik rerimbunan hutan. Refleks gadis itu berlari menghindar. Serbuan anak panah dan sumpit membuat gadis itu pontang-panting menghindarinya. Tanpa disadari gadis itu berlari ke arah yang seakan dipersiapkan untuknya dan disaat gadis itu merasa aman, sebuah sumpit bius bersarang di tengkuknya.
********

Mata gadis itu mengejap membiasakan cahaya menyilaukan yang menyinari tubuhnya, kepalanya terasa berat.
Samar ia mendengar riuh tetabuhan dan genderang, dan sayup ia mendengar teriakan perempuan.
Ketika semuanya jelas, Nadine membelalak ngeri. Ia berada di tengah perkampungan suku primitif, yang semuanya adalah laki-laki, gadis itu mencoba berontak, namun tubuhnya terkunci erat. Tanganya diikat pada sebuah bambu yang dipasang dibawah sikunya dengan posisi dibelakang badan, kemudian pergelangan kakinya juga diikat pada palang bambu, dan dibuat menekuk dengan bantuan bambu lainnya di belakang lututnya, kedua paha Nadine di buka melebar dengan posisi mengangkang, dan semua bambu itu diikat ke sebatang pohon, hingga posisi lutut Nadine berada sekitar setengah meter dari tanah.
Gadis itu mencoba teriak, namun hanya erangan keluar dari mulutnya yang tersumbat oleh....

Nadine histeris, seekor tikus hutan dijejalkan di mulutnya dan diikat hingga Nadina tak bisa memuntahkannya. Dan ketakutannya makin besar ketika ia melihat sekelilingnya. Banyak sekali mayat wanita yang sudah mulai rusak di perkampungan dan semuanya dalam kondisi mengenaskan, ada yang ditusuk dengan sebuah pasak, ada yang tergantung dalam kerangkeng kayu dan burung gagak mencabik mayatnya, ada yang digantung dalam posisi x terbalik, dengan vagina dihujam kayu rengas sebesar tongat baseball.

Suara teriakan gadis itu kembali terdengar, Nadine melihat seorang wanita muda berada terikat disebuah tonggak besar dan banyak kayu disusun disekitar kakinya hingga ke lutut.
Mata Nadine seakan meloncat dari rongga matanya, ia melihat seorang dengan pakaian adat lengkap, yang meungkin kepala suku atau dukun mereka memegang obor dan berteriak lantang dalam bahasa yang asing bagi Nadine.

Gadis di tonggak itu menjerit-jerit histeris mengiba, dalam bahasa yang sependengar Nadine adalah bahasa mandarin. Orang dengan pakaian adat itu kembali berseru lantang sambil menunjuk Nadine, semua mata memandang ke arahnya dan gemuruh sorak sorai membahana memenuhi hutan. Nadine mengerti, mereka akan mengganti gadis mandarin tadi dengan dirinya. Dan ketika derak api mulai membakar kayu di sekeliling gadis itu, Nadine memalingkan wajahnya karena tak tega mendengar jeritan pilu sang gadis, namun sebuah tangan dengan kasar menyentak rambutnya hingga kepalanya terdongak, dan sebuah tangan lagi membuka paksa mata Nadine, hingga mau tak mau ia bisa melihat bagaimana api itu membakar tubuh sang gadis yang menggeliat-geliat kesakitan. Airmata meleleh membasahi pipi Nadine, menyaksikan kebiadaban suku primitif itu.

Namun kegilaan itu belum berakhir, suku primitif itu mulai berebutan mencabik tubuh sang gadis dan memakan dagingnya.
Mereka kanibal, Nadine meronta sekuatnya, ia ketakutan setengah mati, namun ikatannya begitu kencang.
Sumbat mulut Nadine dibuka, gadis itu segera berteriak-teriak minta pertolongan. Hal yang sia-sia.
Tangan yang sama mencekal rahangnya hingga membuka.

Nadine meronta, namun cekalan itu sangat kokoh bagai capit baja. Mata gadis itu melotot dalam horor yang menjadi, seorang primitif itu membawa cabikan payudara gadis mandarin itu lalu menjejalkannya ke mulut Nadine. Nadine hampir muntah, namun mulutnya segera dibekap dengan kain tebal, hingga Nadine tak bisa mengeluarkan setetes muntahanpun.
Percuma gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, ikatan mulutnya sangat kuat, suku primitif itu tertawa melihat ekspresi jijik Nadine dan muntahannya yang keluar dari hidung. Seorang pejuang suku primitif merasa gusar karena Nadine tidak juga menelan 'makanannya' maka ia menjepit hidung Nadine hingga gadis itu sesak nafas dan menelan muntahan serta daging payudara itu.

Kemudian leher Nadine diikat dengan tali rami, serta tangannya diikat membentuk siku yang menyakitkan di belakang tubuhnya. Pejuang suku itu kemudian menarik tali leher Nadine, gadis itu menyeringai kesakitan merasakan kasarnya tali rami dilehernya, maka dengan terpaksa ia mengikuti langkah kaki sang pejuang suku yang mengaraknya keliling desa. Nadine malu setengah mati, tubuhnya yang hanya terbalut lingerie dipertontonkan secara bebas, kemudian tubuh lelahnya dimasukkan ke sebuah gubuk, dan tali lehernya diikat ditonggak penyangga gubug itu.
Nadine terduduk lelah, tubuh dan pikirannya tak bisa menahan teror ini lebih lama, dan ia mengis sejadinya.

Suara gemerisik dalam gubug mengejutkan gadis itu, refleks matanya mencari sumber bunyi, Nadine terkejut melihat seorang wanita dengan tubuh indah dan berambut pirang ada dalam gubug itu.
'I'm Nicole', kata wanita itu, 'I'm Dutch', jelasnya lagi.
Gadis itu menerangkan pada Nadine kalau ia sudah tiga bulan berada dalam sekapan suku primitif itu, Nadine kaget begitu mengetahui gadis itu juga diculik dari tempat tinggalnya dan dijatuhkan di pulau yang sama.

Gadis itu meneruskan, beberapa perempuan yang ada dalam sekapan suku itu dijadikan budak dan pemuas nafsu juga sebagai hiburan senggang mereka. Nadine ingin menanyakan maksud Nicole, namun sang prajurit masuk ke dalam gubug dan menarik nadine ke luar. Ia membawa gadis malang itu ke sebuah ladang dan memaksanya membongkar tanah untuk ladang jagung menggunakan tangannya. Penyiksaannya dimulai, ladang yang terbuka itu memberi akses sinar mentari untuk membakar tubuh indah Nadine. Keringat bercucuran keras, ketika Nadin berhenti sejenak untuk menarik nafas, cambukan keras memaksanya kembali bekerja. Prajurit itu digantikan rekannya yang sama brutalnya dalam memaksa Nadine bekerja mengolah ladang.
Dikejauhan Nadine mendengar riuh penduduk suku menyamarkan jerit pilu seorang wanita.

Matahari berganti bulan purnama ketika Nadine selesai mengolah kebun dan memanen jagung serta umbi-umbian. Tubuhnya sangat letih, namun penjaganya tanpa belas kasihan menariknya kembali ke tengah perkampungan. Nadine melihat ada sebuah panggung didirikan di tengah kampung dan seluruh pria diperkampungan itu telah berkumpul. Bagai kerbau dicocok hidung Nadine melangkah ke atas panggung, orang dengan pakaian adat yang ternyata memang dukun menantinya di atas panggung, lalu memerintahkan Nadine minum dari tempurung kelapa.

Cairan itu berasa sepat dan membakar tenggorokannya, efek ramuan itu ternyata sangat cepat. Nadine merasa tubuhnya sangat ringan dan hampa, bahkan seruan lantang sang dukun terdengar bagai gaung dikejauhan. Namun ketika bunyi tetabuhan mulai terdengar, tubuh Nadine memberikan reaksi berbeda. Tanpa bisa ditahan, tubuhnya bergerak mengikuti entakan tetabuhan, dirinya mengalami trance. Para penonton terkagum-kagum melihat liukan erotik Nadine yang sangat sensual, tangannya yang masih terbalut lumpur dan tanah merayapi tubuhnya, membelai payudatanya dan mengelusi pahanya.

Tanpa bisa ditahan, tangan indah Nadine, melorotkkan tali lingerinya melalui bahu, hingga memampangkan sebuah payudaranya. Tangan para penontonnya serentak mengocok penis mereka yang sudah sangat tegang.
Lalu Lingerienya terlepas, dan tubuh telanjang Nadine tersaji di hadapan seluruh suku, goyangannya makin erotis, perlahan jemari kotornya mulai mengaduk vaginanya sendiri, mencari g-spotnya dan mengocoknya dengan cepat dan keras, hingga gelombang orgasme yang sangat dahsyat menerjang Nadine.

Erangan orgasme Nadine terdengar bertepatan dengan berakhirnya entakan tetabuhan.Kesadaran gadis itu perlahan-lahan kembali, tangisnya meledak merasakan malu dan penghinaan yang amat sangat, dirinya dibius, dan dihipnotis hingga melakukan masturbasi di hadapan banyak orang, terlebih lagi ketika melihat jejak lumpur dan tanah di vaginanya yang berasal dari tangannya sendiri.

Kembali dirinya diseret ke arah gubug, dan ia mendapati Nicole yang meringkuk menahan sakit di selangkangannya, jejak sperma jelas nampak disekujur tubuhnya, rupanya jeritan gadis itu yang tadi didengarnya. Nadine coba menenangkan gadis itu, dan tangisan keduanya terdengar bersahutan.

Sinar mentari menunjukkan hari yang baru, namun Nadine sama sekali tidak bahagia karena ia menyadari penyiksaan dan penghinaan yang baru akan dimulai.Namun hari itu terasa berbeda, ia mendengar tetabuhan pesta, sama seperti ia dipaksa mnontonkan tubuhnya dan masturbasi di depan penduduk desa.
Nadine melihat Nicole yang beringsut ke sudut gubug.
'It's holy grail day' katanya, 'they'll pick one girl as their goddes of fertile and shot their cum inside her vagina, all of them...!'
Nadine kaget bukan kepalang, sekarang kepanikan itu merayapinya dengan lebih dalam lagi. Dukun itu masuk dikawal dua prajurit terbesar yang pernah dilihat Nadine sebelumnya. Gadis itu tegang, nafasnya tertahan. Namun ketika tangan sang dukun menunjuk Nicole, Nadine merasa sedikit lega.

Ia melihat Nicole yang meronta minta dilepaskan, namun tentu saja tenaganya kalah kuat, mereka lalu menyeretnya ke arah pintu gubug. Tiba-tiba, Nicole meneriakkan satu kata dalam bahasa mereka, dukun itu menghentikan para prajurit, dan menghampiri Nicole. Nicole membuat gerakan memohon, lalu menunjuk....
Nadine shock, Nicole memberi bahasa isyarat pada sang dukun untuk memilihnya, Nadine mengerti gerak tubuh Nicole yang mengumbar bahwa Nadine cocok menjadi dewi kesuburan, rahimnya sedang subur, bahwa sebenarnya dirinya binal dang sanggup mengalahkan kejantanan semua pria di suku itu.

Nadine menggeleng panik, tatapan mata dukun itu sangat menusuk. Cacian dan makian keluar dari mulut indahnya, dan semakin keras ketika dua prajurit itu mulai menyeretnya.
'Sory Nadine...' lirih Nicole ketika tubuh gadis itu diseret melaluinya, 'I can't stand another fuck... they raped me for so long....'

Suara Nicole tertutup gemuruh sorak penduduk kampung yang memandang tubuh sexy Nadine yang diseret ke atas panggung, kedua tangan gadis itu dipiting ke belakang dan diikat dengan menyakitkan, tubuhnya lalu direbahkan di lantai panggung, pinggulnya ditahan sebuah palang hingga posisi vagina dan anusnya mencuat tinggi, kemudian lututnya ditempelkan di sisi kepalanya. tali rami yang lain dipakai mengikat lututnya dan dipasak ke lantai panggung.
Posisi Nadine kini benar-benar menggoda, dengan vagina yang mencuat dan sedikit membuka karena kedua kakinya yang terangkat jauh. Kemudian dukun itu memberi pengumuam yang langsung disambut riang seluruh penduduk desa.

Prajurit yang terhebat dan terbesar di suku itu memulai semuanya, Nadine menjerit kesakitan ketika vaginanya diekspansi penis besar itu, sang prajurit bahkan tidak perduli dengan vagina Nadine yang masih kering, tubuh gadis itu terbanting-banting mengikuti sodokan sang prajurit yang dengan perkasa memperkosanya sampai empat puluh lima menit sebelum mengisi vagina Nadine dengan sperma, dan dalam posisinya sperma itu langsung masuk ke rahimnya.
Tidak sampai sepuluh detik, penis lain kembali menggedor vagina Nadine yang memar, lebih brutal, lebih keras, lebih menyakitkan.
Ketika penduduk terakhir menggunakan vaginanya yang sudah sangat becek, bulan purnama menyinar di atas panggung itu. Lalu para penduduk undur diri, meninggalkan Nadine dalam posisi yang tak mengenakkan itu semalaman dengan harapan sperma mereka meresap dalam rahim sang gadis dan bisa membuatnya hamil.

Keesokannya sang dukun menghampiri Nadine, tersenyum melihat vagina gadis itu yang membengkak, dan melihat seluruh sperma terserap dalam tubuhnya.
Lalu dukun itu memerintintahkan penjaga kampung untuk membawa Nadine kembali ke gubug, tubuh gadis itu kaku dan keram karena posisi yang tidak alami sepanjang malam hingga penjaga kampung itu kemudian menyeret Nadine kembali ke gubug.
Dalam nanar matanya Nadine melihat Nicole sudah tak bernyawa, tubuhnya diikat terbalik dan kepalanya ditanam ke sarang semut merah, dan melihat dari banyaknya semut yang menjelajah tubuh yang tak bergerak itu Nadine cuma bisa meneteskan airmatanya. Ia memang benci karena Nicole menjerumuskannya pada para jahanam itu, namun ia tak ingin gadis itu tewas dalam keadaan tersiksa perlahan-lahan seperti itu. Dan Nadine hanya bisa berharap nasibnya tak akan berakhir seperti itu.

Semenjak Nadine menjadi 'dewi kesuburan' maka setiap hari penderitaannya bertambah, bukan hanya siksaan fisik dengan bekerja berat, ia juga menjadi pelampiasan nafsu penduduk desa. Nadine sangat cemas karena banyaknya sperma yang ditanam di rahimnya, bahkan ia sampai memohon agar mereka mau dioral atau menyodominya, asal jangan menambah deposit sperma dalam rahimnya. Namun begitu, walau penduduk desa menikmati gaya baru yaitu deepthroath dan sodomi, pada saat sebelum ejakulasi mereka membenamkan penis mereka dalam vagina Nadine dan berejakulasi di sana.

Nadine berharap cemas, sudah dua hari ia terlambat haid. Ketakutannya membayang, 'aku tak mau hamil...., aku tak mau hamil' gumamnya. Dalam kekalutannya ia teringat kunjungannya ke salah satu pabrik jamu terkenal di Indonesia, ia ingat pernah iseng menanyakan ramuan penggugur kandungan pada salah satu pegawai, ramuannya adalah....

Maka Nadine berpura-pura menikmati perkosaan mereka, dan 'mengajari' mereka bercinta Nadine style, hingga dengan bebas nadine bisa masuk ke tempat-tempat tertentu dikampung itu dan....
Tangan Nadine menggengam batok kelapa yang berisi ramuan jamu, sebersit ada rasa bersalah dan dosa berkecamuk dihatinya, namun....
Tangan gadis itu mengelus perutnya dan berbisik lirih, 'maafkan aku, nak....'

Dukun kampung itu murka mendapati cairan dan gumpalan darah yang keluar dari vagina Nadine, ia menghajar Nadine yang menurutnya terlalu binal hingga menyebabkan kandungannya gugur. Kemudian ia menyuruh Nadine untuk diikat berdiri membentuk huruf x di tengah lapang lalu meminta semua penduduk kampung berkumpul.

Jerit Nadine membahana ketika sabetan demi sabetan cambuk mendera sekujur tubuhnya, dalam pikirnya gadis itu sudah pasrah karena biar bagaimana ia sudah menggugurkan janinya, dan inilah hukuman bagi dirinya.

Apakah ini keberuntungan? walau Nadine tahu ada beberapa wanita lagi yang tertangkap dan menjadi budak mereka, namun nampaknya kecantikan dirinya membuat penduduk kampung masih membiarkannya hidup, walau harus tetap bekerja keras.

Bulan ketiga, Nadine kembali mendengar tetabuhan pesta. Astaga, saatnya penyembahan dewi kesuburan. Sang dukun masuk dalam gubug dan menyeringai buas pada Nadine. Hati gadis itu mencelos, dia telah dipilih kembali menjadi dewi...

Otak gadis itu berputar keras, ia melihat gadis baru yang ditangkap yang berasal dari jepang, yang ternyata adalah miyabi....
Terbersit pikirannya untuk bertindak seperti Nicole, namun dijaukannya pikiran itu. Bukan karena ia takut siksaan yang menanti, namun karena ia tak mau ada gadis lain yang diperlakukan semena-mena, walaupun gadis itu pemain film BF terkenal.
Namun apa ia harus menyerah dan membiarkan rahimnya kembali diisi sperma para bajingan itu?

Matanya melirik miyabi yang ketakutan, dan berkata lirih dalam dirinya 'semoga bukan kamu yang dipilih menggantikan aku.'
Nadine menghampiri dukun dan bersujud dihadapannya, ia memberi isyarat kalau dirinya ingin membersihkan diri di sungai hingga bisa melaksanakan prosesi penanaman benih dengan sempurna.

Nadine membersihkan seluruh tubuhnya di air sungai yang sejuk dingin itu, seluruh tubuhnya mengkilat diterpa mentari pagi, dengan binal ia mempermainkan dirinya sendiri, merangsang tubuhnya memberi pandangan liar menggoda dan...
Prajurit yang menunggunya akhirnya tergerak, ia menghampiri Nadine, menyentak tubuh gadis itu kasar, dan memperkosanya dengan gaya doggy di sungai itu, Nadine bereaksi liar, menggoda dan mencumbui prajurit gagah itu hingga akhirnya prajurit itu orgasme dengan dahsyatnya.

Mata prajurit itu membeliak, belatinya menancap di dada bidangnya, darah mengalir deras. Dan belum sempat ia berteriak Nadine membenamkan kepala prajurit itu dalam sungai. Pukulan bertubi tak dirasakannya, ia mencekik prajurit itu hingga Nadine merasakan pukulan yang makin melemah untuk akhirnya berhenti.

Nadine mengangkat batu besar yang mapu diangkatnya dan menghantam kepala prajurit yang sudah mati itu.
Nadine mengambil pakaian kulit macan tutul yang digunakan prajurit itu dan mengenakannya untuk menutup vagina dan payudaranya, serta sepatu bulu beruang sebagai alas kakinya hingga penampilannya bagai tarzan versi wanita.

Nadine kemudian berlari sekuat mungkin menghindari perkampungan itu, gelegar murka sang dukun terdengar menggema jauh ketika Nadine telah sampai di suatu daerah yang diyakininya diluar area kekuasaan suku primitif itu.

'Aku bebas,' pikirnya, dan perlahan gadis itu berjalan mencoba mencari cara keluar dari pulau terkutuk itu.

bersambung.....

next on survivor....

Dihadapan Nadine terdapat kamp militer... musuhkah atau teman?
Posted by pimp_lord at 5:14 PM <PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>1                                                           </PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>